BPM, Agile, & Joget Workflow

Joget Workflow - More than just a workflow or BPM platform, Joget offers full-fledged agile development capabilities (consisting of processes, forms, lists, CRUD and UI), not just back-end EAI/orchestration/integration or the task-based interface for traditional workflow/BPM products

Sekarang ini, saya kembali menangani pembuatan aplikasi berbasis workflow menggunakan tool BPM open source, Joget Workflow. Sebelumnya pernah menggunakan tool BPM -non open source-,  ARIS Business Architect ketika dulu bergabung ke dalam team Business Process Reengineering di salah satu bank di Malaysia. Tools ini merupakan process modelling tools yang kemudian dapat digunakan untuk mengoptimasi proses bisnis dalam suatu organisasi. Namun saat itu sejauh yang saya tau, ARIS Business Architect lebih berfokus pada business process-modelling dan bukan pada aplikasi akhir.

Joget workflow sendiri pertama kali saya gunakan sekitar tahun 2009 di mana waktu itu masih versi 1. Digunakan untuk project yang awalnya masih POC dan saat itu pemanfaatan Joget Workflow baru sekedar ‘workflow engine’ saja yang bertugas menangani task-flow.

Joget workflow dari awal perkembangannya sudah beberapa kali melakukan perubahan ‘paradigma’, mulai dari hanya berfungsi sebagai workflow management system pada versi 1, lalu berubah menjadi application builder untuk process-driven application pada versi 2, dan pada versi ketiga, joget berfungsi sebagai full-fledged enterprise web-application builder. Artinya, dengan Joget Workflow v3, kita dapat membangun aplikasi web yang di-support oleh workflow engine.

Read More

Habiskan Saja Gajimu…di Jalan yang Benar!

Baru saja selesai baca bukunya pak @ahmadgozali yang judulnya “Habiskan Saja Gajimu!”. Beliau sendiri adalah seorang perencana keuangan profesional yang sudah cukup lama dan berpengalaman dalam bidang perencanaan keuangan.

Dari judulnya memang terkesan agak nyeleneh, seolah-olah kita diminta untuk menghabiskan seluruh penghasilan tiap bulannya. Tapi kalau ditilik lebih jauh, buku ini sebenarnya berisi sebuah ajakan untuk mengubah mindset dan kebiasaan dalam pengaturan keuangan baik untuk pribadi maupun rumah tangga.

Kalau sebelumnya selalu berpikir untuk MENYISAKAN uang atau pendapatan tiap bulannya untuk kemudian ditabung, maka buku ini mengajak untuk MENGHABISKAN uang, namun dengan urutan prioritasnya yang telah diubah di mana kalau sebelumnya urutan pengelompokan pengeluaran keuangan seperti berikut :

  1. #1. Biaya hidup (makan, transportasi, biaya sekolah anak, dll)
  2. #2. Cicilan hutang (cicilan KPR, cicilan kendaraan, dll)
  3. #3. Saving (membeli emas, membayar premi asuransi, dll)
  4. #4. Pengeluaran sosial (zakat/infak/sedekah, atau pengeluaran yang sifatnya berderma)

Maka, beliau menekankan untuk merubah urutannya menjadi :

Read More