Bersediakah aku “menikah” denganku?
Aku cukup terheran-heran mendengar pertanyaan di atas ketika membaca buku “Satu Tiket ke Surga”, karya Zabrina E. Bakar. Rasanya, pertanyaan ini yang terlebih dulu harus aku jawab sebelum aku menyampaikan pertanyaan lain : “bersediakah kau menikah denganku?”.
Dan kalau pertanyaan itu aku lontarkan ke diriku sendiri, jawaban yang akan keluar adalah : “Mungkin”, atau “Akan kupikir-pikir dulu”. Mengapa? Karena aku tau siapa yang akan aku “nikahi”, diriku sendiri, yang aku tau segala kekurangannya, yang aku tau segala kebiasaan buruknya.
Benar tampaknya Sis Zabrina mengatakan bahwa ini adalah salah satu terapi transformasi diri yang cukup efektif. Karena kemudian aku merasa perlu mengubah jawaban dari “Mungkin” menjadi “Iya”. Bagaimana caranya? Tentulah dengan memperbaiki diri ini sehingga aku yakin bahwa aku akan “menikah” dengan pribadi yang memang aku harapkan.
Sekarang, aku persilakan kawan-kawan untuk menjawab pertanyaan itu, dalam hati saja, bersediakah kau menikah denganmu? .. ![]()




wah, mantep mie. pertanyaan yang menohok setiap orang tuh.
“apakah saya sudah benar-benar mengenal diri saya selama hidup bersama dengan jasad dan rohani saya sejauh ini?”
* it’s all about -> bagaimana menyikapi apa yang telah Allah SWT berikan..
Would I marry Me?
Yes, I do. For the rest of my life, I dont have to think twice.
sebuah perenungan yang begitu menarik…
hhmmmmm…….yes i do.
klo kita blm bisa mengenal diri kita sendiri gimana kita mo nikah ama orang laen??
iya to ??
udah dijawab dalem ati
bettul, rasanya perlu utk menilai kesiapan diri sendiri sebelum menanyakan si calon utk siap menikah dengan si pasangan.
udah lama tak bersua, bro..
hmmm bagus bukunya ane juga udah beli beberapa bulan yang lalu…. boleh pinjem kok klo ada yang mau.
*sudah ditanya dan dijawab dalem ati mi
hemmm…rumit juga..memngingat rumitnya wanita
…
aku sendiri sebagai wanita kadang2 g ngerti juga. tapi untung aku wanita, jadi g harus menikah dengan wanita..
kalo aku milih nanya “apakah kau mau menikah denganmu?” biar ga’ susah2 mikir
Mungkin~ Saya akan jawab kalo saya bersedia menikah dengan diri saya sendiri~ Dan saya bisa menerima segala sisi buruk saya~…
Tapi kalo bisa, juga merubah beberapa sisi buruk saya~ Jadi saya bisa tambah mencintai diri saya sendiri~…
*merasa aneh menjawab pertanyaan inih*
Numpang lewat
Pertanyaan yang bagus mi dan mengingatkan kita kembali untuk bersedia dan siap menerima segala kelebihan dan kekurangan diri sebelum menanyakan kesediaan calon pasangan hidup kita terhadap diri kita. selain itu kita pun harus belajar untuk menerima dan memahami orang lain. itu salah satu persiapan psikologi pernikahan.dan aku sepakat denganmu bahwa perbaikan diri menjadi salah satu cara kita mempersiapkannya.insya Allah..
By the way, gimana hasil trainingmu? bulan ini sudah mulai terjun kerja kalo gitu. oia, aku dengar malino diterima di pocari sweat ya dan sekarang lagi training di jakarta? barakallah dan moga sukses buat kalian.
# p=i2r
Alhamdulillah trainingnya udah rampung.. Iya udah mulai penugasan dari kantor. Malino di Pocari Sweat, kantornya di daerah Pondok Indah
Amiin, moga sukses juga buatmu…
huhuhuhuhuhu..numpang lewat juga ahhhhhhh
me?? the right choice (dubraakk!!)
kita menuntut calon pasangan kita harus ini itu dll, masih byk yg mesti dibenahi. padahal mungkin itu jg yg dipikirkan oleh nya.
kesimpulan saia sih, kita harus belajar berbenah sebelum membenahi. *masih belajar berbenah*
Insya Allah, aku telah menerima diriku dengan sepenuh hati.
Aku ridho dengan apa yang ada dalam diriku. Lalu, maukah engkau menikah denganku..?…
(lho??… ditujukan kemana nih pertanyaannya???)