Pertanyaan Tentang Cinta

October 14th, 2009 4 Comments fahmij

Apakah cinta
selalu menyediakan airmata?

Apakah cinta
selalu menyediakan harapan?

rindu yang berdenyut di nadi
rela dan maaf di sanubari,
uluran tangan tanpa pamrih
kurasa itu cinta

dan ketika kau memutuskan
untuk memeluk Tuhan
di sepanjang jalan berliku
kurasa itu paling cinta

Abdurrahman Faiz, 2003

Seperti dua sisi mata uang, cinta menyediakan harapan, sekaligus air mata,
menawarkan keindahan, juga terselip penderitaan. Tapi itu cinta pada makhluk, yang air matanya adalah air mata kesedihan, yang harapannya sangat boleh jadi berujung kekecewaan, dan yang penderitaannya akan menyakitkan.

Lalu, cinta yang bermuara, berawal dan berakhir pada Tuhan, sesungguhnya juga menyediakan harapan & air mata, tapi air matanya adalah air mata kebahagiaan, karena Tuhan itu Maha Menentramkan, Beliau menjanjikan kedamaian bagi hambaNya yang ikhlas menangis dihadapanNya.
Pun, jika berharap hanya padaNya, harapan itu tak akan pernah dikecewakan, karena Tuhan tak pernah ingkar janji.

Kemudian, bagaimana sebaiknya meletakkan cinta pada makhluk, sehingga ketika cinta tak berbalas, kita masih bisa tersenyum, ketika harapan dipatahkan, tetap air mata bahagia yang mengalir?

Mungkin kita bisa mencontoh Sayyidina ‘Ali, sebagaimana dituturkan oleh ustadz Salim A Fillah dalam blognya :

Ketika beliau mendengar Abu Bakar, seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat dengan Baginda Nabi, melamar Fathimah, Sayyidina ‘Ali berkata “Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.

’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

* Judul diambil dari puisi ‘Pertanyaan Tentang Cinta‘ – Abdurrahman Faiz (http://masfaiz.multiply.com)

Fokus

August 17th, 2009 7 Comments fahmij

“Fokuslah pada satu hal, dengan sepenuh hati (full of passion), dan kamu akan berhasil dengan hal itu”. Setidaknya kata-kata itu sudah dibuktikan oleh banyak tokoh yang boleh dibilang sukses dengan apa yang mereka lakukan -dengan sepenuh hati tentunya. Michael jordan agaknya dapat jadi contoh yang tepat untuk melihat keberhasilan karena mampu fokus pada kekuatan dan bakatnya sebagai pemain basket profesional. Namun, dia juga menjadi contoh yang ‘baik’ untuk mewakili kegagalan lantaran ‘out of focus’, yaitu ketika dia memutuskan untuk menjadi pemain baseball profesional, sayangnya itu tidak membuatnya menjadi pemain yang briliant seperti ketika dia ada di lapangan basket.

Ada juga Mr. Warren Buffet, pebisnis dan investor kelas dunia. Kenapa beliau jadi contoh untuk persoalan fokus ini? Ya, karena beliau fokus pada bisnis yang benar-benar dia mengerti. Terbukti saat bisnis di dunia ‘dot com’ melanda Amerika tahun 1990-an, Warren Buffet tidak tertarik untuk ambil bagian, dan kemudian keputusannya terbukti tepat, saham-saham dot-com berguguran seiring krisis finansial pada kisaran 1998 : Dot-com Bubble.

Ada banyak lagi contoh orang-orang yang telah mencapai “keberhasilan” melalui ‘metode’ fokus ini. Lalu bagaimana dengan multitasking?

Sesungguhnya tidak ada manusia yang mampu melakukan multitasking : melakukan dua atau lebih dalam waktu bersamaan dengan hasil yang optimal. Bahkan komputer sekalipun tidak dapat melakukan multitasking karena yang dilakukannya -sebenarnya- adalah menjalankan instruksi-instruksi secara berurutan dalam waktu yang sangat cepat, sehingga seolah-olah komputer dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu. Dengan kata lain, yang mungkin dilakukan adalah rapid refocusing : beralih fokus dari satu hal ke hal lain lalu kembali lagi ke hal semula secara cepat. Namun, perpindahan fokus yang terlalu sering ternyata membahayakan otak.

Dan hari ini, saya memaksa kepala untuk beralih -berkali-kali- mulai dari Eclipse, facebook, utak-atik playlist winamp, chatting, sampe nge-blog. Hasilnya : nothing !

So, apa moral dari posting ini? Ya… fokus aja, insyaAllah lebih produktif ;)