Fahmi Ja’far 2008
Sekarang ini sudah menjelang akhir tahun 2007, dan mungkin ini adalah saat yang tepat untuk evaluasi akhir tahun; apa saja yang sudah dilakukan di tahun ini, apa yang sudah dicapai, yang belum tercapai, serta kekurangan di tahun ini, dan evaluasi/muhasabah tersebut bisa saya jadikan acuan untuk menentukan visi, tujuan, cita-cita, keinginan & harapan di tahun depan, dan tahun-tahun berikutnya. Tujuannya tentu saja adalah continuous improvement , peningkatan kualitas terus-menerus, tanpa henti, atau sampai titik prestasi tertentu yang konvergen. Pak M. Anis Matta dalam bukunya “Konsistensi Menyongsong Husnul Khotimah”, menilai ini sebagai suatu upaya pencapaian khusnul khatimah, akhir yang baik, yang akan dicapai melalui proses perbaikan diri yang kontinyu, konsisten, atau kita juga mengenalnya dengan sebutan “istiqomah”.
Di awal tahun ini saya pernah buat rencana kegiatan, serta target-target tertentu yang ingin saya capai, namun, sepertinya hanya sedikit sekali yang terrealisasi, dan tingkat keberhasilannya mungkin hanya berkisar 5-10%.
Target-target itu tidak tercapai, saya akui karena memang saya tidak mengerjakannya secara profesional, setengah hati, entah karena tidak fokus, skala prioritas yang terlalu sering dilanggar, atau karena belum bisa mengelola waktu dengan baik. Dan untuk tahun depan, ini harus diperbaiki.
Apa sih short term vision saya untuk 2008 ? Beberapa “rencana besar” itu antara lain :
- Saya harus belajar untuk lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari apapun, meletakkan cinta kepada-Nya tertinggi di hati. Caranya? Dengan menjadikan nafas “iyyaakana’budu wa iyyaaka nasta’iin” sebagai ruh dalam tiap langkah. Langkah kongkritnya? Berusaha sekuat tenaga untuk sholat tepat waktu, dan lebih dari itu, harus belajar ikhlas, ngga pake riya’, ngga pake ujub. Berat juga ya? hmm..mungkin.., tapi kita tidak akan pernah mencapai bintang kalau cita-cita kita hanya setinggi tiang listrik, kan?
- Saya ingin belajar untuk lebih mencintai keluarga, terutama tentu saja my luvly mom, karena cintanya yang tak bertepi telah mengantarkan saya ke titik yang akan selalu saya syukuri sepanjang hidup. Robbighfirlii waliwalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani soghiiroo..amiin.
- Selanjutnya saya ingin belajar jadi orang yang profesional di setiap tanggung jawab yang diberikan kepada saya, mencapai hasil yang optimal dalam tiap pekerjaan, dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin supaya pekerjaan bisa diselesaikan sebelum deadline. So, kunci untuk target ini adalah good time management dan do the best all the time.
- Saya ingin wishlist berikut ini tercapai, apa itu?
- Skripsi selesai paling lambat bulan Februari 2008, jadi bisa wisuda bulan Mei 2008. Amiin, Allahumma amiin.
- Memperbaiki the acakadut grammar of English beibeh, speaking, listening, writing, inheritance, encapsulation, polymorphism.. *loh, kok ada OOP-nya ??
- Belajar Java programming, supaya skill-nya nambah, ngga cuma bisa echo-echo, select * from, dan while($res = mysql_fetch_array($sql)){} aja…
tapi juga bisa pake public static void main() 
- Belajar framework PHP, mungkin cakePHP bisa untuk media latihan yang bagus.
- Hmm..apa lagi ya? Oiya, pengen bisa nyetir mobil, supaya ga “jet lag” kalo suatu saat dikasi rezeki punya mobil (amiin.. Allahumma amiin).
- Pengen bisa renang, jadi ga cuma bisa pake gaya batu kalo di kolam renang.
- Saya ingin bidadari surga yang saya tak tau sekarang lagi ada di mana itu bersedia menyebut namaku dalam istikharahnya, dan ikhlas menjadi istriku, amiin..
- Berikutnya, saya ingin bisa lebih baik dalam bergaul, memperbaiki “the way of communication” sama semua orang, juga meningkatkan kemampuan berkata-kata yang manusiawi yang selama ini agak rusak gara-gara lebih sering buka Notepad++ ketimbang situs-situs Social Network atau blogwalking and leave the message.
- Terakhir, saya ingin punya peran, meski sedikit, dalam upaya pengurangan efek Global Warming, kita semua tahu, suatu saat akibat buruk yang ditimbulkan oleh hal-hal buruk yang kita lakukan akan kembali ke diri kita sendiri. Caranya? Pak Bayu Gawtama sudah menceritakannya untuk kita.
Baiklah, saya berharap keinginan, mimpi, cita-cita, visi, dan harapan-harapan saya di atas dapat tercapai dan semoga Allah berikan kemudahan, kekuatan, dan jalan keluar untuk itu. Amiin.
Bagaimana dengan sodara-sodari? Saya berharap semoga Allah juga memberikan yang terbaik untuk Anda seperti yang Anda impikan.
bermimpilah (dan berjuanglah).. dan Tuhan akan memeluk mimpimu (Arai, on Sang Pemimpi – Buku kedua Tetralogi Laskar Pelangi)
Powered by ScribeFire.
Aku beriman, maka aku bertanya (Jeffrey Lang)
Saya baru saja selesai membaca buku karangan Jeffrey Lang, Aku beriman, maka aku bertanya. Buku hasil pinjam seorang kawan ini menceritakan perjalanan panjang pengarangnya – seorang matematikawan Amerika, guru besar di Universitas Kansas, Lawrence, USA. – dari ateis sampai ke Islam. Sebuah perjalanan panjang yang kemudian memberi banyak pelajaran untuk pembacanya, setidak-tidaknya untuk saya
Buku ini merupakan bagian pertama dari buku ketiganya, Losing My Religion : A Call for Help (2004), dan untuk edisi Indonesia dibagi menjadi dua. Dituturkan secara apa adanya, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Juga menjawab –dengan logis, tak terbantahkan, dan menyegarkan iman — pertanyaan-pertanyaan kritis seputar Islam : autentisitas Al Quran, sifat-sifat Allah, derita manusia dan keadilan Allah, kenabian Muhammad dan pernikahan Beliau SAW, dan sebagainya.
Salah satu bagian yang membuat saya tertarik untuk terus membacanya adalah bagian awal yang menceritakan perjalanan Jeffrey Lang masuk Islam, dimana ia dipinjami teman muslimnya sebuah kitab yang di sampulnya bertuliskan “The Holy Quran”, dan kemudian dia mencoba membaca kitab itu, seperti kutipan berikut ini :
Apakah AlQuran sedang berbicara kepadaku?
“Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (Q.S. 2:2)Aku merasa bergetar ketika membaca ayat ini. Aku bertanya pada diri sendiri: Apakah kau sedang berbicara padaku? Aku baru membuka halaman dua Kitab Alquran ini, dan telah merasakan suatu sensasi yang kemudian berulang kali
kualami ketika membaca ayat-ayat lainnya. Pada halaman sebelumnya tertulis surah pertama, yang sesungguhnya merupakan doa mohon petunjuk. Bunyi selengkapnya dari surah tersebut adalah sebagai berikut :“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang; Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam; Maha Pemurah lagi Maha Penyayang; Yang menguasai hari pembalasan; Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan; Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (Q.S. 1: 1-7)
Pada halaman kedua Alquran, permulaan surah kedua, Tuhan sendiri menyapa pembaca Kitab-Nya dengan menyatakan bahwa petunjuk yang mereka minta itu tepat berada di tangan mereka. Lantas, aku berpikir : Engkau mengatakan bahwa kitab ini adalah petunjuk yang kuminta? Aku membaca kembali ayat kedua itu :
“Kitab (Alquran) ini”
“Sebuah cara yang orisinal dan tepat dalam menyampaikan wahyu!” kataku pada diri sendiri. Alih-alih menyuguhkan sejarah sebuah umat, atau biografi seorang guru yang agung, atau kumpulan sabda seorang nabi, penulisnya yang semula kukira adalah Nabi Muhammad malah menyusun Kitab Suci ini dalam bentuk kalimat langsung dari Tuhan untuk manusia. Aku berpikir bahwa inilah setepatnya yang harus kita anggap sebagai wahyu ilahi -serupa dengan Sepuluh Perintah [untuk Nabi Musa] yang telah dibukukan.
Sewaktu membaca Alquran, aku mulai mengagumi kecerdasan penulisnya. Aku sangat terkesan dengan pengalaman-pengalaman serupa yang berkali-kali kurasakan, seperti telah kusebutkan sebelumnya, tetapi dalam tingkat yang makin dahsyat.
Di sini aku merasa ngeri karena sepertinya Alquran benar-benar sedang berbicara kepadaku, secara intelektual dan, karena terbatasnya kata yang lebih baik, secara spiritual. Aku membayangkan bahwa penulisnya mencantumkan banyak sekali ayat yang dia tahu akan memancing pertanyaan-pertanyaan dan tanggapan-tanggapan tertentu dari pembaca, dan makanya dia mengantisipasi tanggapan-tanggapan tersebut dalam ayat-ayat berikutya
Dari potongan halaman buku itu, saya kemudian tertarik untuk terus membacanya, membaca pengalaman penulis sampai ke Islam, padahal sebelumnya ateis, sebuah perjalanan yang saya yakin sarat dengan hikmah. Bagi yang sudah dari lahir berlatar Islam, mungkin merasa tak begitu istimewa ketika membaca Alquran -atau malah jarang membacanya-, tetapi bagi Jeffrey Lang, yang sebelumnya tidak ada latar Islam sama sekali -bahkan (sebelumnya) ateis – ini merupakan pengalaman yang sangat-sangat tak ternilai yang kemudian mengantarkannya pada hidayah yang diperolehnya dengan membaca, mencari dan bertanya, lalu menemukan jawabannya.
Salam ![]()
Powered by ScribeFire.



Recent Comments
emang bener dengan mengatakan Insya Allah berarti kita mengakui bahwa memang Allah yang paling berkuasa atas...
Musti ditonton tuh.. seruu ceritanya…
waaah… nana belum sempet nonton filmnyaa..baca post ini jadi lgsg pingin nonton nieee. thanks ya mas...
hebat sunguh nama itu,,,,ya Allah,,,,,,,,
kl g salah ada petunjuknya to mas?? kok kayak ponakanku si hanif gek seneng2nge maen rubik.bangun tidur yg...